Tips Membuat berita lebih menarik
Sebenarnya apa sih yang membuat coretan kita berarti? Menarik? Setidaknya yang bisa membuat seseorang mau menengok goresan pena kita?
Ternyata tulisan yang sesuai Ejaan Yang Dasempurnakan (EYD) pun masih belum cukup untuk menyandang berita yang ‘potensial’. Nilai dari beritalah yang juga perlu diperhatikan. Coba saja lihat novel-novel yang beredar di negeri ini. Tebalnya sangat beragam. Ada yang tebalnya hanya setengah senti tapi harganya bisa buat beli bakso tujuh porsi. Sementara ada juga novel tebal satu senti yang harganya cuma Rp.15.000,00. Hmm, kok bisa jauh banget gitu?
Jadi berita (baca: tulisan) itu punya nilai sendiri ternyata. Gimana ya buat berita yang bernilai? Gak mau dong nasib tulisan kita cuma dihargai lima belas ribu aja? Ayo deh kita list apa-apa aja yang bisa bikin berita jadi ‘laku’:
1. Daya Tarik/ Magnitude
Contoh:
Gaji Guru PNS SD Maju Terus 3juta.
Berita ini biasa saja. Karena memang rata-gajinya segitu. Ya udah, ngapain diberitain? Jadi kurang menarik.
Tukang Becak Ini dapat 500ribu sekali gowes.
Ini baru menarik. Biasanya tarif becak itu Rp.5.000.00-Rp.20.000.00
sekali jalan. Lha kok bisa sampai setengah juta? Pasti pembaca akan
tergelitik melihat berita-berita seperti ini. Karena diluar pakem.
2. Kebaruan/ Timelines
Awas, banyak yang terkecoh dengan dengan poin kedua ini. Baru disini bukan sekedar ‘baru saja terjadi’ atau baru yang mengulang apa yang sudah ada.
Contoh:
Presiden SBY memimpin jalanya upacara 17 Agustus 2102 di Istana.
Baru sih, aktual. Tapi sudah berlangsung dari tahun-tahun sebelumnya. Paling-paling komentar pembaca cuma “Oh”.
Presiden SBY memimpin upacara 17 Agustus 2012 di Keraton.
Ini nih, headline! Kenapa sampaike Keraton? “Gak jadi di Istana Pak?”, mungkin itu komentar pembaca. Atau sekedar bilang wow.
3. Kedekatan/ Proximity
Ada dua kedekatan;
a. Kedekatan Fisik
Contoh: Harian Jogja idealnya dibaca oleh warga Jogja.
b. Kedekatan Psikologis
Contoh: Warta Kota menayangkan berita tentang Persija yang bertanding di Old Trafford. Sebagai warga Jakrta pasti tertarik dong?
4. Tokoh/ Prominance
Contoh:
Pak Joko mudik naik bis.
Hey, siapa itu Pak Joko? Penting gitu? hehehe
Jokowi keliling Monas naik sepeda.
Intinya bukan pada sepedanya, tapi Jokowi-nya. Karena Jokowi itu tokoh.
5. Kepentingan/ Importance
Contoh:
Jalan Malioboro dijadikan dua arah.
Berita ini bagus kalau yang memberitakan koran Jogja. Laris manis di Jogja. Bukan The New York Times.
Sebenarnya apa sih yang membuat coretan kita berarti? Menarik? Setidaknya yang bisa membuat seseorang mau menengok goresan pena kita?
Ternyata tulisan yang sesuai Ejaan Yang Dasempurnakan (EYD) pun masih belum cukup untuk menyandang berita yang ‘potensial’. Nilai dari beritalah yang juga perlu diperhatikan. Coba saja lihat novel-novel yang beredar di negeri ini. Tebalnya sangat beragam. Ada yang tebalnya hanya setengah senti tapi harganya bisa buat beli bakso tujuh porsi. Sementara ada juga novel tebal satu senti yang harganya cuma Rp.15.000,00. Hmm, kok bisa jauh banget gitu?
Jadi berita (baca: tulisan) itu punya nilai sendiri ternyata. Gimana ya buat berita yang bernilai? Gak mau dong nasib tulisan kita cuma dihargai lima belas ribu aja? Ayo deh kita list apa-apa aja yang bisa bikin berita jadi ‘laku’:
1. Daya Tarik/ Magnitude
Contoh:
Berita ini biasa saja. Karena memang rata-gajinya segitu. Ya udah, ngapain diberitain? Jadi kurang menarik.
2. Kebaruan/ Timelines
Awas, banyak yang terkecoh dengan dengan poin kedua ini. Baru disini bukan sekedar ‘baru saja terjadi’ atau baru yang mengulang apa yang sudah ada.
Contoh:
Baru sih, aktual. Tapi sudah berlangsung dari tahun-tahun sebelumnya. Paling-paling komentar pembaca cuma “Oh”.
3. Kedekatan/ Proximity
Ada dua kedekatan;
a. Kedekatan Fisik
Contoh: Harian Jogja idealnya dibaca oleh warga Jogja.
b. Kedekatan Psikologis
Contoh: Warta Kota menayangkan berita tentang Persija yang bertanding di Old Trafford. Sebagai warga Jakrta pasti tertarik dong?
4. Tokoh/ Prominance
Contoh:
Hey, siapa itu Pak Joko? Penting gitu? hehehe
Intinya bukan pada sepedanya, tapi Jokowi-nya. Karena Jokowi itu tokoh.
5. Kepentingan/ Importance
Contoh:
Berita ini bagus kalau yang memberitakan koran Jogja. Laris manis di Jogja. Bukan The New York Times.
6. Akibat/ Impact or Consequency
Sebuah berita dapat menimbulkan bermacam opini, hingga tindakan serius.
Contoh:
Mulai April 2012 BBM naik 500 rupiah.
Dampak dari kenaikan BBM itu macem-macem. Industri gulung tikar. Krisis Angkot. Bahan makanan langka. Yang penting bukan Rp.500.00 nya, tapi NAIK nya. Inilah menariknya. Diberitakan berulang pun tak masalah selama masih hangat.
Sebuah berita dapat menimbulkan bermacam opini, hingga tindakan serius.
Contoh:
Dampak dari kenaikan BBM itu macem-macem. Industri gulung tikar. Krisis Angkot. Bahan makanan langka. Yang penting bukan Rp.500.00 nya, tapi NAIK nya. Inilah menariknya. Diberitakan berulang pun tak masalah selama masih hangat.
7. Konflik
Contoh:
Kerusuhan Etnis meluas di kalangan pelajar.
Berita berbau kerusuhan selalu menarik. Entah apa manfaat yang didapat. Berita-berita yang ironis.
Contoh:
Berita berbau kerusuhan selalu menarik. Entah apa manfaat yang didapat. Berita-berita yang ironis.
8. Sensasi
Gak semua peristiwa berpotensi jadi berita. Jadi dibuatlah berita yang sekedar sensasi.
Contoh:
Jupe titisan Suzanna.
9. Unik
Peristiwa nyeleneh, gak biasa, bisa tuh dijadiin berita/ peristiwa.
Contoh:
Kecoak sekepalan tangan.
Ular berkepala dua.
11. Human Interest
Jenis berita dalam Human Interest memiliki nilai yang dalam. Hanya kurang menarik pembaca.
Sumber: Atik Dinarti Ary Kompas.com
Gak semua peristiwa berpotensi jadi berita. Jadi dibuatlah berita yang sekedar sensasi.
Contoh:
Jupe titisan Suzanna.
9. Unik
Peristiwa nyeleneh, gak biasa, bisa tuh dijadiin berita/ peristiwa.
Contoh:
11. Human Interest
Jenis berita dalam Human Interest memiliki nilai yang dalam. Hanya kurang menarik pembaca.
Sumber: Atik Dinarti Ary Kompas.com